Tafsir mimpi, bolehkah?

r7BhP

 

 

 

 

 

 

 

Al-Quran menerangkan bahwa sebagian mimpi itu memang ada yang bermakna dan memiliki nilai informasi. Meski tidak semua mimpi seperti itu. Mimpi yang memiliki makna dan bernilai informasi hanya bisa dibaca atau diterjemahkan oleh mereka yang memiliki ilmu tersebut. Diantara mereka yang secara pasti dan tegas diberi ilmu seperti itu adalah Nabi Yusuf as.

Tercatat dalam Al-Quran Nabi Yusuf mengartikan mimpi. Yang pertama mimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Dan yang kedua adalah mimpi sang Raja. Allah SWT berfirman : “Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku , sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar mu.

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni’mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni’mat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf : 4-6) “Raja berkata : “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka : “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.” Mereka menjawab : ” adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu.” Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku .” : “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya , kecuali sedikit dari yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dan dimasa itu mereka memeras anggur.”” (QS. Yusuf :43-49).

Mimpi sebagai metode pemberian wahyu dan syariat Sebagian dari mimpi bahkan bisa merupakan wahyu dan pensyariatan suatu hukum. Namun itu terbatas pada para Nabi dan Rasul saja. Sedangkan manusia biasa sama sekali tidak dibenarkan bila mengaku mendapat perintah dari Allah melalui mimpi. Allah SWT memberi perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail as. “Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. Ash-Shaaffaat : 012). Mimpi sebagai kabar gembira Rasulullah SAW pun pernah mendapat mimpi yang menggembirakan di saat-saat sulit. Yaitu mimpi bahwa beliau dan pasukannya bisa masuk kota Mekkah dan menjadi pemenang atas peperangan melawan seterus bebuyutan mereka, kafir Quraisy. “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat .” (QS. Al-Fath : 27) Mimpi orang-orang shalih Orang-orang yang shalil bisa saja diberi informasi berita dari Allah akan peristiwa yang akan terjadi. Namun sifatnya sebagai isyarat saja dan bukan informasi yang detail. Lagi pula tidak dibenarkan mimpi mendapat perintah bentuk ibadah tertentu dari Allah, karena Islam ini sudah lengkap semenjak Rasulullah SAW wafat 1400 tahun yang lalu.

sumber : http://myquran.org/forum/index.php?topic=79180.0

One thought on “Tafsir mimpi, bolehkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s