Bapakku di Mimpi Terakhir Part 2 by Juliah Utami

juliah utami-cerpen bapak“kriiiiiii…ng” suara bel sekolah yang tua dan reot  berbunyi  terlalu nyaring membangunkanku dari lamunan panjangku, membiarkan mahasiswa berhamburan  keluar kelas. Ada yang langsung pulang atau nongkrong-nongkrong dikantin dulu. “Febrian, mau bareng gak?” Tanya Ojan, sahabatku. Namaku Febrian, dan hari ini lagi-lagi dosen  memanggilku kekantor. Bukannya aku ketahuan mencontek, tidak buat tugas ataupun berantem dengan teman. Tapi aku emang sudah biasa dua bulan sekali datang kekantor, jadi aku tidak merasa aneh. “gue mau kekantor nih, kalo mau duluan, duluan aja” aku tersenyum padanya. “gak lama kan?” tanyanya lagi, “hmmm, kayak biasa mungkin..” jawabku agak ragu. “oke, gue tungguin”. Mia pun duduk menungguku di kursi kayu panjang didepan kelas.

Liburan segera datang, lima hari lagi aku akan pulang ke desaku. Selama  menjadi anak kuliahan di kota, akhirnya aku bisa kembali kerumah. Liburan kali ini sangat bagus, selain bisa pulang kampung, aku ini adalah liburan terpanjang yang pernah aku lakukan setelah aku menjadi mahasiswa. Liburan kali ini pun aku punya cukup uang untuk naik travel . karena uang selalu menjadi kendala. Aku yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan bapak secara langsung membuatku tidak dapat menuntut uang terlalu banyak dengan ibu.

Dulu, kehidupan SMA ku pun tak berbeda jauh, uang selalu jadi penghalang, sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah yang terlalu besar bagi kami, kalau saja ayah membiarkanku sekolah di dekat rumah, yang hanya berjarak sepuluh menit jalan kaki. Terkadang aku tak mengerti bagaimana jalan pikirannya itu, selalu berpikir ke masa depan nun jauh dimata. Aku tak terlalu pandai untuk membuat sejenis perancanaan yang seperti itu, bahkan sebenarnya aku tidak suka membuat rencana, karena disetiap detil rencana yang kubuat tak jarang gagal untuk dilakukan.

Perjalanan membutuhkan waktu dua hari semalam, aku sengaja tidak member tahu ibu kalau aku akan pulang, biar menjadi kejutan nantinya . Disepanjang perjalanan aku lebih banyak tidur, sebenarnya aku tidak suka bepergian jauh. Travel sumpek ini membuatku sangat tidak nyaman. Di saat aku tidur, aku bermimpi ayahku meminta maaf denganku, mimpi itu terasa begitu nyata dipikiranku. Perasaanku di dunianyata saat itu sama persis dengan apa yang aku rasakan di dalam mimpi.

Aku langsung menolak mentah-mentah kata maaf itu. Aku tidak mau memaafkannya. Mungkin aku terlalu sakit hati kepadanya, lalu ia terlihat terduduk lesu mendenhgarkan jawaban dariku. Perasaanku sangat tidak enak, aku ingi mengatakan bahwa aku membutuhkan waktu sedikit lagi untuk itu, tapi ia telah pergi dan meninggalkan ku tiba-tiba, bahunya terguncang-guncang seperti menahan tangis.

Sekejap aku langsung terbangun dari tidurku, mimpi yang begitu nyata. Aku sempat khawatir memikirkannya, apakah tindakanku salah? Tapi aku memang butuh waktu untuk itu. Aku sudah terlalu sakit hati oleh karenanya. Apakah aku terlalu kejam? Akupun merasa begitu, namun ini hanyalah mimpi. Mungkin apabila ini benar-benar terjadi aku akan member jawaban lain.

Aku pun telah sampai di kampungku, sebentar lagi aku akan melewati beberapa desa dan sampai di desa kecil tempat tinggal ku. Travelnya ,mengantarkanku sampai kedepan rumah. Aku pun segera turun. Dirumahku terlihat cukup ramai orang, aku pun senang karena tetangga ku menyambut ku dengan antusias, kedatangan ku dari kota ini. Namun setelah kumendekat, wajah mereka tidak tersenyum, apakah mereka marah kepadaku? Tidak, mereka tidak marah kepadaku. Mereka membawa baki-baki mereka yang ditutup selendang. Butuh beberapa menit aku berfikir apa makna semua ini.

Banyak juga yang berbaju hitam-hitam, jangan-jangan? Tidak! Aku tidak boleh berfikir seperti itu, dengan tas ranselku, aku berlari kerumah menerobos banyaknya orang disekitar rumahku, dan apa yang aku temukan di rumah? Aku menemukan bungkusan mayat kaku bertutupkan kain kafan di ruang tamuku, ibuku terlihat begitu sedih disampingnya, tak terasa air mataku menetes. “bapak… ini bapak kan??” aku langsung memeluknya dan menagis sejadi-jadinya. Bagaimana aku bisa sesedih ini ketika aku merasa begitu membencinya. Sekarang aku begitu menyesal… Tuhan apakah ini juga sebuah mimpi? Ibuku langsung memelukku, sungguh ini adalah penyesalan terhebat yang pernah aku rasakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s