013 (The Beginning) Part 1 by Juliah Utami

juliah utami pintu

Malam itu terasa sangat sepi, aku sendirian di kamar. Jam dinding tepat menunjukkan pukul delapan malam. Karena ketiduran, aku tadi lupa makan di kantin, menjadi anak asrama itu susah-susah gampang, dari kata-katanya aja ketahuan kalau susahnya lebih banyak. perut yang melilit udah nyayi bonamana alias kelaperan membuatku angacak-ngacak koper di bawah kasur. ketemulah sebungkus mie instant yang membuat mataku berbinar-binar.

Keadaan asrama benar-benar sepi, aku ditinggal sendirian karena aku sendiri yang sedang berhalangan. Ku ketuk pintu kamar sebelah, “Assalamu’alaikum, ada yang punya air pa.. ” belumlah aku selesai bertanya, dari jendela tidak terlihat tamda-tanda kehidupan. Berarti aku harus turun kelantai satu untuk mengambil air panas dari dispenser, karena dispenser lantai dua galonnya kosong. Akupun berjalan mengelilingi koridor dan menuruni tangga satu-persatu dengan mangkuk gelas berisi mie instant, dari tangga tanpa sengaja aku melihat seperti seseorang bermukena putih dari sisi jendela.

Aku terus saja berjalan tanpa menghiraukan itu. Setelah sampai di depan dispenser, aku mulai mengisi mangkuk belingku dengan tetes demi tetes air panas. Sambil menunggu terisi penuh, aku sambil memikirkan apakah yang baru aku lihat tadi, “seperti orang yang sedang salat, tapi salat tarawih di kamar?” pikirku dalam hati, tanpa terasa mangkuk ku sudah terisi penuh. aku pun membawanya dengan hati-hati.

Aku masih penasaran dengan apa yang aku lihat tadi, “Apakah orang itu tidak salat tarawih? ah tapi tidak mungkin, itu kan diwajibkan” aku bertanya-tanya dalam hati. ketika akan menaiki tangga, aku mengintip kearah jendela kamar itu, tidak terlihat siapapun, akupun mengetuk pintuu dan membukanya. Tidak ada siapa-siapa, hanya suara kipas angin yang belum dimatikan. akupun langsung berlari meninggalkan kamar yang bernomor 013 itu tanpa menutup pintu, berlari menaiki tangga dan langsung masuk ke kamarku. “Aduh, panas” teriakku, karena terlalu takut aku baru merasakan tanganku yang terkena air panas waktu berlari menaiki tangga tadi. Jantungku seperti mau lepas, “jelas-jelas aku tadi melihat seperti seseorang yang bermukena putih, mengapa kamar itu kosong?” ujarku, Akupun hanya dapat terduduk dibalik pintu karena merasa syok. Apakah itu adalah.. (to be continue)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s