Rumah Penyesalan part 1 by Juliah Utami

juliah utamiSinar matahari begitu terik hingga menembus sela-sela ranting dan daun yang begitu rindang. Terlihat sepihan debu-debu kecil kayu bekas gergaji berkarat seorang pria tua berbadan bungkuk. Tubuhnya yang renta dilapisi kulit yang semakin mengeriput setelah memasuki usianya yang berumur tujuh puluhan lebih namun masih mampu membawa beberapa balok kayu hasil tebangannya diatas pundak, lalu berjalan menuju bagian belakang istana Raja. Disana telah tegeletak kerangka kayu berbentuk sebuah kursi goyang yang sangat besar. Diambilnya paku-paku yang akan ditancapkannya disetiap sambungan.

Tetes keringat yang terus mengalir hingga membuat bajunya menjadi basah di saat senja tiba, saat itulah kursi goyang telah terselesaikan. Setelah mengecek setiap sudut pekerjaannya yang telah selesa terlihat kepuasan dari raut wajahnya ketika memandangi setiap detil ukiran yang terpahat di setiap perabotan yang ia bua, semuanya terbuat dari kayu jati. Hari ini dia telah membuat dua meja ukir dan kursi goyang. Ia berjalan dengan badan bungkuknya menuju ke Istana. “Pak Leman” panggil seseorang dibelakangnya, ternyata Raja telah berada di belakang istana untuk memperhatikan tanpa sepengetahuan Pak Leman, si tukang kayu yang bekerja diistana. “Kursi goyang yang sangat indah, kau telah menyelesaikan tugas terakhirmu dengan sangat sempurna” ujar sang Raja, “Terima kasih” kata Pak Leman dengan sedikit tersenyum, lalu ia meninggalkan istana dan kembali kerumah kontrakannya.

Di sepanjang perjalanan, teringat saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di istana Raja saat mengikuti sebuah sayembara. Saat itu, putri bungsu sang Raja yang baru berumur genap 8 tahun telah hilang. Ketakutan dan kecemasan selalu menghantui sang Raja, maka ia mengadakan sebuah sayembara. “Barang siapa yang mampu menemukan putriku, aku akan memberikan imbalan kepada orang itu” ujar sang Raja saat memberikan pengumuman di alun-alun kota. Mendengar sayembara tersebut, para warga lalu bekerja keras mencari sang putri yang hilang. Disetiap dinding ditempeli foto sang putri, para warga sangat tertarik untuk mendapatkan imbalan yang akan diberikan sang Raja, uang dan perhiasan tidak mungkin menandingi imbalan dari sayembara ini.

Kebaikan sang Raja membuat semakin bayak orang yang berusaha mencari. Sayembara ini pun sampai terdengar oleh pak Leman yang berada di pinggiran kota. Tapi dia tidak terlalu berniat untuk mencari, karena ia tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk sesuatu yang tidak pasti. Lalu ia hanya melanjutkan pekerjaannya untuk mencari kayu bakar di hutan belakang istana. Disana ia hanya memunguti ranting-ranting yang bergeletak diatas tanah, sebenarnya ia bisa menebang beberapa batang pohon untuk membuat sesuatu yang lebih berguna dan dapat dijual. Apalagi mengukir adalah kelebihannya, namun ia tidak memiliki alat yang semacam itu lagi sejak insiden kebakaran yang dialaminya tiga tahun yang lalu.

Pak Leman kembali memunguti kayu bakar, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara dibalik semak-semak. Terdengar seperti tertawa terbahak-bahak. Dengan berhati-hati ia menyelinap ke balik semak, dilihatnya seekor monyet yang sedang duduk diatas batu, “sepertinya aku mendengar suara orang yang tertawa” kata pak Leman sambil menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan, ia sangat y  kin dengan apa yang ia dengar barusan. “Ya, yang tadi tertawa itu aku” kata seorang anak yang baru keluar dari balik pohon, ternyata dia adalah putri sang raja. “Apa yang kamu lakukan di tengah hutan ini sendirian?” tanya pak Leman, “aku sedang main petak umpet, lagipula aku tidak sendirian” jawab sang Putri, “lalu dimana teman-temanmu?” tanya pak Leman karena kebingungan. “kau tidak melihatnya? Dia berada tepat didepanmu” kata sang putri sambil menunjuk-nunjuk si monyet. Ternyata sang putri hilang bukan karena diculik, melainkan pergi bermain petak umpet bersama temannya si monyet di hutan belakang istana. Sesuai janji yang telah diberikan Raja. Selain mendapatkan hadiah, pak Leman juga  mendapatkan pekerjaan sebagai pengrajin kayu di istana.

Saat ini, ia telah merencanakan segala kehidupan yang akan dilaluinya besok dan hari-hari yang akan datang. Sudah lebih dari tiga puluh tahun ia bekerja sebagai tukang kayu di istana, setelah mrnyelesaikan tugas terakhirnya, akhirnya ia dapat beristirahat menikmati sisa hidupnya seorang diri dengan menghabiskan uang yang telah ia simpan berpuluh-puluh tahun lalu. Istrinya sudah meninggal, dan anak-anaknya pergi merantau jauh dan sangat jarang untuk menemui orangtua yang sudah renta ini. Namun Pak Leman tidak terlalu menuntut mereka karena ia tidak ingin menyusahkan anak –anaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s