Rumah Penyesalan

Sinar matahari begitu terik hingga menembus sela-sela ranting dan daun yang begitu rindang. Terlihat sepihan debu-debu kecil kayu bekas gergaji berkarat seorang pria tua berbadan bungkuk. Tubuhnya yang renta dilapisi kulit yang semakin mengeriput setelah memasuki usianya yang berumur tujuh puluhan lebih namun masih mampu membawa beberapa balok kayu hasil tebangannya diatas pundak, lalu berjalan menuju bagian belakang istana Raja. Disana telah tegeletak kerangka kayu berbentuk sebuah kursi goyang yang sangat besar. Diambilnya paku-paku yang akan ditancapkannya disetiap sambungan.

Tetes keringat yang terus mengalir hingga membuat bajunya menjadi basah di saat senja tiba, saat itulah kursi goyang telah terselesaikan. Setelah mengecek setiap sudut pekerjaannya yang telah selesa terlihat kepuasan dari raut wajahnya ketika memandangi setiap detil ukiran yang terpahat di setiap perabotan yang ia bua, semuanya terbuat dari kayu jati. Hari ini dia telah membuat dua meja ukir dan kursi goyang. Ia berjalan dengan badan bungkuknya menuju ke Istana. “Pak Leman” panggil seseorang dibelakangnya, ternyata Raja telah berada di belakang istana untuk memperhatikan tanpa sepengetahuan Pak Leman, si tukang kayu yang bekerja diistana. “Kursi goyang yang sangat indah, kau telah menyelesaikan tugas terakhirmu dengan sangat sempurna” ujar sang Raja, “Terima kasih” kata Pak Leman dengan sedikit tersenyum, lalu ia meninggalkan istana dan kembali kerumah kontrakannya.

 Di sepanjang perjalanan, teringat saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di istana Raja saat mengikuti sebuah sayembara. Saat itu, putri bungsu sang Raja yang baru berumur genap 8 tahun telah hilang. Ketakutan dan kecemasan selalu menghantui sang Raja, maka ia mengadakan sebuah sayembara. “Barang siapa yang mampu menemukan putriku, aku akan memberikan imbalan kepada orang itu” ujar sang Raja saat memberikan pengumuman di alun-alun kota. Mendengar sayembara tersebut, para warga lalu bekerja keras mencari sang putri yang hilang. Disetiap dinding ditempeli foto sang putri, para warga sangat tertarik untuk mendapatkan imbalan yang akan diberikan sang Raja, uang dan perhiasan tidak mungkin menandingi imbalan dari sayembara ini.

Kebaikan sang Raja membuat semakin bayak orang yang berusaha mencari. Sayembara ini pun sampai terdengar oleh pak Leman yang berada di pinggiran kota. Tapi dia tidak terlalu berniat untuk mencari, karena ia tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk sesuatu yang tidak pasti. Lalu ia hanya melanjutkan pekerjaannya untuk mencari kayu bakar di hutan belakang istana. Disana ia hanya memunguti ranting-ranting yang bergeletak diatas tanah, sebenarnya ia bisa menebang beberapa batang pohon untuk membuat sesuatu yang lebih berguna dan dapat dijual. Apalagi mengukir adalah kelebihannya, namun ia tidak memiliki alat yang semacam itu lagi sejak insiden kebakaran yang dialaminya tiga tahun yang lalu.

 Pak Leman kembali memunguti kayu bakar, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara dibalik semak-semak. Terdengar seperti tertawa terbahak-bahak. Dengan berhati-hati ia menyelinap ke balik semak, dilihatnya seekor monyet yang sedang duduk diatas batu, “sepertinya aku mendengar suara orang yang tertawa” kata pak Leman sambil menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan, ia sangat y  kin dengan apa yang ia dengar barusan. “Ya, yang tadi tertawa itu aku” kata seorang anak yang baru keluar dari balik pohon, ternyata dia adalah putri sang raja. “Apa yang kamu lakukan di tengah hutan ini sendirian?” tanya pak Leman, “aku sedang main petak umpet, lagipula aku tidak sendirian” jawab sang Putri, “lalu dimana teman-temanmu?” tanya pak Leman karena kebingungan. “kau tidak melihatnya? Dia berada tepat didepanmu” kata sang putri sambil menunjuk-nunjuk si monyet. Ternyata sang putri hilang bukan karena diculik, melainkan pergi bermain petak umpet bersama temannya si monyet di hutan belakang istana. Sesuai janji yang telah diberikan Raja. Selain mendapatkan hadiah, pak Leman juga  mendapatkan pekerjaan sebagai pengrajin kayu di istana.

Saat ini, ia telah merencanakan segala kehidupan yang akan dilaluinya besok dan hari-hari yang akan datang. Sudah lebih dari tiga puluh tahun ia bekerja sebagai tukang kayu di istana, setelah mrnyelesaikan tugas terakhirnya, akhirnya ia dapat beristirahat menikmati sisa hidupnya seorang diri dengan menghabiskan uang yang telah ia simpan berpuluh-puluh tahun lalu. Istrinya sudah meninggal, dan anak-anaknya pergi merantau jauh dan sangat jarang untuk menemui orangtua yang sudah renta ini. Namun Pak Leman tidak terlalu menuntut mereka karena ia tidak ingin menyusahkan anak –anaknya.

Berminggu minggu telah dilalui pak Leman, istirahat dirumah kontrakannya tanpa harus bekerja memang membuat otot-ototnya yang selalu bekerja menjadi rileks. Ia sangat menikmati kehidupan yang telah ia dapatkan. Sebenarnya ia sedikit merasa kesepian karena harus melakukan semuanya sendiri.

Matahari baru saja menampakkan diri ketika semua warga disuruh untuk berkumpul di alun-alun kota. Ada kabar buruk yang akan diumumkan oleh pihak kerajaan, semua orang terlihat sangat penasaran dan suasana menjadi semakin gaduh. Orang-orang tiba-tiba menjadi tenang ketika ada seorang laki-laki berambut klimis dari kerajaan membawakan gulungan kertas berwarna emas, ia membacakan pengumuman bahwa sang Raja yang memimpin kerajaan ini telah wafat. Suasana hening tidak dapat lagi terbendung dengan kabar yang begitu menyedihkan ini, tidak hanya di keluarga tapi juga warga yang ikut sedih karena mereka sangat merasakan kebaikan dan kedermawanan sang Raja.

“Permisi, ada pak Leman?” kata seseorang dibalik pintu rumah kontrakan pak Leman. Suara itu terdengar berulang-ulang hingga membangunkan pak Leman yan g sedang tidur nyenyak. “siapa sih itu? Mengganggu orang tidur saja!” bentak pak Leman dalam hati, padahal ia sangat menikmati tidur siangnya itu. Ia lalu membukakan pintu dan mempersilahkan tamu yang menganggu tidurnya itu masuk. “Permisi pak, kami minta agar bapak pergi ke istana atas perintah sang putri” kata laki laki itu. “baiklah, aku akan pergi kesana besok pagi” kata pak Leman. “Maaf pak, tapi putri meminta bapak untuk pergi sekarang juga memenuhi panggilannya” kata pria itu, ternyata ia adalah sekertris kerajaan. “Baiklah-baiklah, aku akan pergi sekarang” kata pak Leman dengan nada yang tidak terlalu senang.

 

Mereka pun sampai di Istana, disana pak Leman datang menemui sang Putri yang sudah menunggunya. Sang Putri tampak sangat senang, ia langsung menyambut pak Leman dan mempersilahkannya duduk. “Pak Leman, maaf telah memintamu datang kesini terlalu mendadak, tapi ini memang sangat penting” kata sang Putri. “Saya juga merasa senang jika bisa membantu” kata pak Leman. “di surat terakhir yang ditinggalkan ayahanda, salah satunya adalah permintaan untuk pak Leman agar membuatkannya sebuah rumah sebagai permintaan terakhirnya, beliau juga telah membuatkan desainnya. “Aku harap pak Leman dapat memenuhinya” pinta sang putri kepada pak Leman. “baiklah jika itu yang sang Raja minta” ujar pak Leman.

Dilihatnya lah desain rumah yang telah Raja buat. Rumahnya sangat besar dan rumit, sebenarnya pak Leman tidak terlalu senang dengan permintaan Raja, “aku ini sudah tua, kenapa tidak minta tolong tukang kayu lainnya saja?” kata pak Leman dalam hati. Ia merasa keberatan karena desain rumah yang terlalu rumit dan besar, “ini akan memakan waktu yang sangat lama, aku hanya membuang waktuku saja kalau membuat persis seperti desainnya, akan kubuat mereka kapok untuk menyuruhku lagi” kata pak Leman lagi dalam hati. Lalu, pak Leman membuat rumah itu dengan setengah ukurannya, sehingga ia bisa membuatnya lebih cepat. Ia juga tidak menggunakan kayu jati melainkan kayu biasa, ini ia lakukan karena agar ia tidak susah-susah menebang kayu jati yang pohonnya sangat besar itu. Kayu yang ia gunakan adalah kayu berkualitas rendah sehingga permukaannya sangat kasar dan rapuh. Pak Leman tidak mengerjakannya secara detil. Sehingga pekerjaan yang ia kerjakan dua kali lebih cepat.

”Aku tidak menyangka pak Leman dapat membuat rumah ini dalam waktu yang sangat singkat, tapi bagaimanapun saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya”. “ya, sama-sama. Apakah saya boleh pulang sekarang?” tanya pak Leman tidak sabar. “pak Leman mau pulang kemana?” tanya putri “ya kerumah saya” jawab pak Leman agak heran. “saya tahu itu bukan rumah bapak tapi rumah kontrakan. Alasan bapak meminta anda membuatkan rumah karena rumah ini adalah rumah pemberiannya kepada pak Leman sebagai tanda terimakasihnya, jadi silahkan bapak mengemasi barang dan segera pindah kerumah baru bapak ini” jawab sang Putri kepada pak Leman. Pak Leman terduduk lemas, apa yang ia pikirkan ternyata salah, ia yang tidak melakukan pekerjaannya secara jujur merugikannya  sendiri. Ia telah berprasangka buruk kepada Raja. Ia lalu menangis tersedu menyesali perbuatannya tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s