Time Line part 1 by Juliah Utami

julia

“Klik”, bunyi mouse mungil berwarna biru muda setiap kali aku menekannya. Dengan penuh semangat aku mengetikkan username dan password twitter ku. Tak butuh waktu yang lama, layar notebook 10 inch ku dalam sekejap menampilkan time line. Segera ku mengecek mention yang tanpa sengaja kutinggal begitu saja karena kuota modem yang ludes, itu mungkin karena aku yang khilaf mendownload drama korea terbaru yang jumlah episodenya sampai belasan itu. Ternyata ada dua mention yang belum kubaca.

Tanpa sadar terlintas senyum kecil di bibirku, hampir genap enam bulan kami berkomunikasi menggunakan jejaring sosial. Awalnya karena kami sama-sama menyukai anime… lalu saling memberikan informasi ter update, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya aku yakin kalu dia itu baik. Aku tak tau banyak mengenainya, dimana rumahnya, berapa umurnya, bahkan nama lengkapnya. yang pasti dia itu anak cowok baik yang bernama @light. Satu hal lagi yang aku tahu, dia anak SMA.

Libur akhir semester telah berakhir, waktunya kembali kesekolah dengan barang yang serba baru. Tas, sepatu, buku tulis, seragam, yang telah aku persiapkan sejak tadi malam, aku tak mau datang terlambat di hari pertama aku masuk sekolah sebagai anak kelas sebelas, mau dibilang adik kelas apa aku nanti. Kepala sekolah menginstruksikan murid murid dengan toa usang yang selalu dipakainya, setelah memberikan kata sambutan dan bla.. bla.. bla.. akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun datang, yaitu pembagian kelas. Setiap angkatan memiliki tujuh kelas masing masing, dan akan di acak setiap kenaikan kelas. Semoga aku mendapatkan teman sekelas yang aku harapkan, baik dan tidak aneh. Kelas telah dibagi dan kami segera pergi ke kelas masing-masing.

Karena tidak terlalu memperhatikan ceramah kepala sekolah tadi, aku baru sadar ternyata ada peraturan baru yang dibuat sekolah, para guru yang menentukan posisi meja dan teman sebangku masing masing, wajar saja tadi banyak yang menjerit histeris. Bagaimana tidak, siapa juga yang mau di paksa duduk sebangku dengan orang yang tidak sukai. Dan itu terjadi padaku, Gracia  cewek sok imut yang selalu memakai pita pink yang super besar di kepalanya. Aku memang belum terlalu mengenalnya, tapi dari penampilannya yang alay sudah membuatku kehilangan selera belajar. Aku berharap aku bisa menyukainya sebagai teman sebangku, setidaknya untuk satu semester ini.

Sepulang sekolah, aku langsung masuk kekamar dan membuka laptopku. Sepertinya mention dengan @light bisa membuat ku merasa lebih baik. Bagaimana aku tidak khawatir, hampir setiap guru di sekolahku selalu memberikan tugas atau project bersama dengan teman sebangku. Kalau aku tidak bisa menyukainya, bagamana dengan nilai ku?. Sebuah mention pun datang “Semoga beruntung, cobalah cari persamaan diantara kalian. Mungkin hobi..” Bagaimana mungkin aku punya hobi yang sama dengan si alay itu, gerutuku dalam hati.

Perkembangan ku berteman dengan Gracia tidak seburuk yang aku kira, dia pandai mencari topik pembicaraan. Hampir sebulan ini aku duduk sebangku dengannya, dan minggu ini kami berencana untuk membuat tugas Bahasa Indonesia bersama, “…. kita buat tugasnya di rumah aku aja yuk, hari minggu nanti orang tua ku gak ada dirumah” katanya penuh semangat, “baiklah, kita ketemuan di depan sekolah ya” kataku sambil berbalik  keluar kelas. Tapi terasa ada tangan yang menahanku, “…. kamu gak bisa lari lagi, hari ini kamu piket!” serunya dengan tampang suram. “Huh kena deh” gumamku dalam hati. (to be continue)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s